Mengenali gejala penyakit autoimun

ID-100176699[image courtesy of [arztsamui] / FreeDigitalPhotos.net]

Barangkali sebagian besar dari anda membaca blog ini karena anda sudah terdiagnosis dengan penyakit autoimun. Namun bagi pembaca yang belum tahu mengenai penyakit autoimun dan tertarik ingin mengetahuinya atau curiga menderita penyakit autoimun, disini saya akan membahas mengenai gejala-gejala yang perlu diperhatikan sebagai tanda kemungkinan menderita penyakit autoimun.

Gejala-gejala yang umumnya muncul pada penyandang penyakit autoimun, diantaranya (lebih umum pada penyandang penyakit autoimun sistemik):

– Sakit-sakit badan

Pernahkah anda sakit demam berdarah? Mungkin sebagian dari anda sudah pernah. Nah ketika sakit demam berdarah anda merasa badan anda sakit-sakit, entah itu tulangnya atau ototnya, namun seluruh badan anda terasa sakit, bisa rasa seperti kesemutan yang nyeri, rasa seperti ditusuk-tusuk, atau rasa seperti disayat-sayat. Seperti itulah gejala rasa sakit badan pada penyandang penyakit autoimun, terkadang juga ada tambahan rasa seperti kesetrum atau ngilu, jika sudah begini biasanya sudah ada komplikasi penyakit autoimunnya menyerang saraf sehingga menyebabkan yang disebut neuropati. Sakitnya pada penyandang autoimun akan terasa terus menerus sepanjang dia menderita penyakit ini, namun kadarnya bervariasi dan mungkin tidak selalu dirasakan di seluruh badan. Ketika penyakit sedang memarak, sakitnya bisa terasa sekali hingga mengganggu atau tidak tertahankan maka biasanya akan mencari pertolongan ke dokter untuk meminta obat penghilang rasa sakit. Ketika penyakit sedang adem, maka sakitnya akan terasa ringan, hingga jika tidak diperhatikan bisa seperti tidak terasa namun begitu sedang istirahat mulai terasa lagi hanya saja bisa ditoleransi sakitnya, bisa ditahan tanpa perlu obat penghilang rasa nyeri. Selain itu, sakit pada penderita penyakit autoimun juga dapat berat hingga disentuh saja sakit, yang disebut dengan alodinia. Bahkan terkena pakaian saja sakit.

– Sakit sendi

Sakit pada sendi ini kadang tertutupi oleh sakit pada seluruh badan pada awal perjalanan penyakit, karena sakit pada seluruh badan akan sangat mengganggu dan penyandang dalam pikirannya hanya merasa seluruh badannya sedang sakit. Biasanya setelah sakit seluruh badannya berkurang, maka akan mulai lebih terasa bahwa ada fokus sakit pada sendi-sendinya, terlebih lagi ketika diperiksa oleh dokter yang menekan pada daerah sendi akan lebih terasa sakitnya. Pada penyandang Rheumatoid Arthritis, gejala sakit sendi pasti akan dirasakan dan umumnya disertai dengan kekakuan, bengkak, merah dan panas.

– Sensitif terhadap matahari

Penyandang penyakit autoimun umumnya sensitif terhadap matahari. Jika terkena matahari, badannya akan terasa tidak enak, namun lebih umumnya pada penyandang SLE (umumnya orang awam mengenalnya sebagai Lupus saja). Pada penderita SLE, jika terkena matahari, akan terlihat ruam-ruam pada kedua pipinya yang dinamakan butterfly rash/malar rash, selain itu dapat muncul juga ruam-ruam pada bagian tubuhnya yang lain. Dapat juga akan menjadi terasa lebih silau jika dibawah sinar matahari.

– Fatigue

Gejala ini yang umumnya menjadi penganggu utama selain sakit badan pada penyandang penyakit autoimun, karena badan akan terasa seperti tidak ada energi, seperti sangat lelah, seperti habis lari marathon padahal tidak habis melakukan aktivitas. Badan akan terasa sangat capek. Untuk melakukan aktivitas menjadi sulit, karena sulit untuk dapat mengangkat badan karena sangat kurangnya energi. Hal ini suka disalahartikan oleh orang lain yang tidak mengerti sebagai malas, padahal memang sulit untuk bergerak karena kurangnya energi dan rasa badan seperti sangat lelah dan membutuhkan istirahat. Namun setelah beristirahat pun tetap saja badan masih terasa capek. Pada penyandang autoimun fatigue ini akan datang dan pergi sesukanya, terkadang bisa kronik (untuk periode lama) atau terkadang hanya ketika flare. Mengenai fatigue ini memang masih menjadi misteri sehingga masih terus diteliti.

– Sariawan

Penyandang autoimun banyak yang mengeluhkan menjadi sering sariawan, setiap bulan ada sariawan baru. Sariawan yang muncul dapat nyeri namun juga dapat tidak nyeri.

– Tidur terganggu

Pada awal perjalanan penyakit, biasanya pola tidur akan terasa berantakan, di suatu waktu akan terasa ngantuk terus, di waktu lain akan insomnia (sulit tidur). Beriring dengan waktu, umumnya akan lebih banyak insomnia atau sulit untuk jatuh tidur, atau menjaga tidur, hanya bisa tidur beberapa jam. Namun jika sudah kelelahan beraktivitas, jika kecapekan akan menjadi sangat ngantuk sekali yang tidak tertahankan.

– Rambut rontok

Bagi kaum wanita, rambut adalah mahkota. Sangat sedih rasanya melihat rambut rontok. Salah satu gejala pada penyakit autoimun sayangnya adalah rambut rontok. Akan terasa rambut menjadi menipis, atau ketika hanya sedang menyapu rambut dengan halus, banyak rambut yang tercabut. Rambut rontok ini juga sayangnya akan menjadi lebih parah dengan konsumsi beberapa obat tertentu penyakit autoimun seperti methotrexate, karena salah satu efek samping dari methotrexate adalah rambut rontok.

– Brain fog

Ada istilah yang populer di luar negeri bagi para penyandang penyakit autoimun yang dikenal dengan brain fog. Brain fog ini meliputi kepala seperti rasanya beku, seperti ada batu di dalam kepala, atau rasa seperti makan es krim terlalu cepat, dan penderitanya menjadi mudah bingung, mudah lupa, sulit berkonsentrasi dan sulit fokus.

– Sakit kepala

Ada juga sakit kepala yang sering pada penyandang penyakit autoimun adalah migrain atau sakit kepala sebelah, dan sakit kepala seluruh kepala yang berat sehingga rasanya bola mata akan copot.

– Demam ringan

Ketika penyakit sedang memarak, umumnya penyandang penyakit autoimun akan merasa badan seperti semang-semang, demam ringan. Badan terasa panas dan orang lain yang memegang juga dapat merasakan badan penyandangnya hangat, namun ketika diperiksa dengan termometer, suhunya masih normal namun pada batas atas, 37,4/37,5 derajat celcius.

– Sensitif terhadap suhu

Penyandang penyakit autoimun akan menjadi sensitif terhadap suhu dan perubahan suhu. Kadang jika orang lain merasa panas, penyandang penyakit autoimun akan merasa badannya dingin bahkan seperti meriang, bisa juga sebaliknya ketika orang lain merasa dingin, penyandang akan merasa badannya panas. Di lain waktu ketika suhu dingin, penyandang akan merasa lebih kedinginan dari orang lain, dan tidak tahan dengan suhu dinginnya. Begitu juga ketika suhu panas, akan sulit tahan dengan suhu panasnya. Ada juga rasa seperti badan terasa panas, namun menggigil kedinginan, meriang tapi badan dalam rasanya panas.

– Lebih terasa ketika haid

Bagi para wanita penyandang penyakit autoimun, umumnya mengeluhkan gejala-gejala akan lebih terasa ketika haid, atau dengan kata lain, penyakitnya akan lebih memarak ketika menjelang haid dan hari-hari dekat-dekat haid.

Salam

Advertisements

15 thoughts on “Mengenali gejala penyakit autoimun

  1. Halo, Mbak Andini. Salam kenal. Saya Anissa. Senang rasanya bisa membaca blog Mbak. Sejak didiagnosis penyakit autoimun kurang lebih 2 bulan ini, blog Mbak adalah salah satu tempat membaca dan mencari tahu saya tentang penyakit ini. Terus terang, saya kerap browsing untuk mengenal lebih jauh sakit yang saya derita. Saya jadi makin sayang dan care dengan tubuh saya. Gejala-gejala yang dijelaskan sama Mbak di atas, hampir semua terjadi pada saya kecuali sariawan dan insomnia. Saat ini saya masih didiagnosis SLE namun non-aktif oleh dokter Sp.PD. Saya sampai sekarang kurang paham dengan maksud non-aktif tadi. Akhirnya saya memutuskan untuk mencari second opinion ke dokter Sp.PD-AI, dan dikatakan saya ada dugaan Sjogren Syndrome, meski harus diperiksakan dulu ke dokter Sp.M. Mohon doa’anya ya Mbak. Semoga Mbak Andini juga selalu diberi kekuatan oleh Tuhan. 🙂

  2. assalamualaikum wr wb
    nama saya fani berumur 18 tahun saya terdiagnisa autoimumune jenis spondylitis arthritis , yang saya ingin tanyakan dok. akhir akhir ini jika terkena matahari bagian belakang hingga kepala tersaya seperti kesemutan dan sangat gatal ,mohon jawabannya dok

  3. Mbk mau tanya.kedua lengan dan punggung terasa panas apalagi kepegang sakit terasa nyeri.sdh 1 minggu.tp gk bengkak gk merah.biasa tp sakit nk orng jawa bilang wedangen.kena gesekan baju sakit kepegang sakit.tlng kasih penjelasan ya mbk.makasih

  4. badan saya tersa sangat panas terutama daerah mata, padhal sya tidak demam.trus kata teman2 sya seperti org sedang puasa lemas dan kurang semangat. pesendisn sya terutama daerah punggung jga sakit. tks

  5. Halo mbak.perkenalkan Aku tiara. Beberapa gejala sepeeti yang ditulis itu aku rasain dari pertengahan tahun 2011 sampai skrg. Dokter menduga saya memang menderita autoimmune. Tapi tes RF saya masih normal walaupun CRP memang sedikit lebih tinggi. Kemudian dokter menyarankan untuk melakukan ANA test. Hasilnya blm keluar. Namun hasil tes sel LE d lab pramita yng inisiatif saya lakukan sendiri hasilnya pun negatif. Saya jd bingung saya sakit apa sebenarnya. Apakah benar autoimmun? Skrg kondisi beberapa jari dan pergelangan kaki tangan saya bengkak dan ukurannya tidak bisa kembali normal . Pun ketika mulai nyeri , bengkak itu semakin bertambah besar sampai saya sulit beraktifitas. Teman2 pun takut dan sedih melihat keadaan saya waktu persendian saya kambuh.

    • Penyakit autoimun ada faktor genetiknya, namun faktor genetik saja tidak kemudian membuat penyakitnya muncul. Ada faktor pemicu yang membuat penyakitnya muncul, umumnya memang infeksi virus, namun bisa juga pola hidup seperti dari makan, stress, dan aktifitas.

  6. Terima kasih mb dokter informasinya. Insya Allah blog mb sangat bermanfaat bagi penderita autoimun.
    Perkenalkan nama saya Rina, oleh dokter dinyatakan RA, Rhematoid Faktor saya 8 sementara rujukan hrs dibawah 8. Pertanyaan saya :
    1. Dengan hasil RF 8, apakah saya benar2 mengidap RA?
    2. Bisakah RF ini diturunkan, bgmn caranya?
    3. Apabila mengalami insomnia, bgmn cara mengatasinya ?
    4. Bgmn kiat2 nya agar penderita autoimun bisa tetap fit?
    Terima kasih mb dokter.

    • Amin mba Rina. Untuk penegakan diagnosis RA adalah sesuai dengan kriteria diagnosis yang berupa hasil pemeriksaan lab dan gejala, jadi tidak hanya dari satu segi. Dokter yang menangani yang akan mempertimbangkan segala seginya untuk menegakkan diagnosis. Penurunan RA tidak kemudian memastikan penurunan gejala. Untuk memantau penyakit biasa yang digunakan adalah marker peradangan seperti LED atau CRP. Untuk insomnia, ada beberapa trik yang mungkin dapat membantu. Usahakan 1 jam sebelum tidur jauhkan dari segala gadget seperti hp, ipad, ipod, laptop, televisi, dan lainnya. Beristirahatlah dengan tenang dalam 1 jam sebelum tidur tersebut, dapat mungkin dengan aromaterapi atau sekedar membaringkan tubuh saja. Makanlah 2-3 jam sebelum tidur. Jika sudah siap untuk tidur, barulah pindah ke tempat tidur, pastikan pakaian nyaman. Jangan gunakan tempat tidur untuk tempat bekerja atau semisal membaca buku, supaya otak mengasosiasikan tempat tidur untuk tidur sehingga akan memudahkan untuk dapat tidur. Untuk fit, usahakan tetap aktif namun jangan melebihi batas. Lakukan olahraga ringan seperti jalan kaki, namun jika sudah terasa pegal maka berhentilah. Jadi tetaplah aktif sebatas kemampuannya, jangan dipaksakan, nanti perlahan-lahan akan terasa dapat lebih aktif dari sebelumnya dan semoga dapat menjaga tetap fit. Jangan biasakan berada pada satu posisi monoton terlalu lama. Semoga membantu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s