Olahraga untuk autoimun

MH900389122Exercise is Medicine!

Peran olahraga dalam kedokteran telah diungkapkan sejak jaman dahulu, terbukti dengan ilustrasi Ibnu Sina atau lebih di kenal dengan nama Avicenna di negara barat dalam bukunya ‘The Canon of Medicine‘. Olahraga dapat berperan dalam pencegahan maupun terapi. Semua orang jika ditanya akan mengatakan bahwa mereka tahu olahraga itu penting dan bermanfaat, bagian dari hidup yang sehat, namun ketika ditanya bagaimana olahraga yang benar, tidak semua orang dapat menjawab dengan benar. Olahraga juga tidak dapat sembarangan saja, perlu ada resepnya seperti resep obat-obatan yang ada dosisnya dan cara serta waktu penggunaannya yang tepat supaya dapat efektif dan tidak berlebihan. Siapakah para ahli yang dapat meresepkan ini? Yaitu sport’s physiologist (ahli ilmu fisiologi olahraga, dengan titel AIFO) atau dokter spesialis sport’s medicine (dokter spesialis olahraga, dengan titel SpKO).

Olahraga yang benar adalah sesuai dengan kondisi masing-masing individu, dilihat dari kondisi kesehatannya, risiko dalam keluarganya, masa indeks tubuhnya (dari berat badan dan tinggi badannya), aktivitasnya dan kebiasaannya untuk olahraga atau tidak. Jika memutuskan untuk berolahraga sebaiknya konsultasi dulu ke ahlinya untuk memulainya, dan jika sebelumnya tidak aktif berolahraga atau aktivitas kesehariannya biasanya tidak banyak bergerak maka olahraganya harus dimulai perlahan dahulu dan secara bertahap naik menjadi lebih aktif. Mengapa hal ini penting untuk diperhatikan? Karena perlu menghindari kondisi ‘overtraining‘ yang justru merugikan daripada bermanfaat. Selain itu, yang diinginkan dari olahraga adalah mendapatkan manfaatnya secara efektif untuk menyokong kesehatan, menjaga kesehatan, maka perlu dilakukan dengan benar sesuai dengan kondisi masing-masing individu.

Bagaimana pada penderita penyakit autoimun? Penderita penyakit autoimun akan mempunyai keterbatasan dibandingkan orang sehat tentunya, namun tidak berarti tidak dapat berolahraga dan olahraga masih dapat bermanfaat untuk penderita penyakit autoimun. Salah satu manfaatnya yang baik adalah membuat badan bugar, yang akan sangat baik untuk meningkatkan kualitas hidup penderita penyakit autoimun. Namun memang perlu konsultasi dengan para ahli dan dilakukan dengan hati-hati. Prinsip utamanya adalah jangan sampai berlebihan, mulai secara perlahan, jika sudah merasa pegal, capek, harus berhenti. Jika mau bergerak mulailah dengan berjalan dahulu hingga jika mulai muncul pegal atau capek maka berhenti, nanti secara perlahan akan bisa lebih lama dan jauh jalannya. Jika mengangkat beban mulailah dari yang ringan dulu, jika sudah terasa pegal maka berhenti.

Yang baik juga untuk penderita penyakit autoimun adalah stretching, termasuk yoga yang jenis iyengar, yang gentle, ringan. Jika melakukan stretching atau yoga, jangan memaksakan untuk menarik badan diluar batas kemampuan, jika sudah merasa tidak bisa lagi menarik badannya, maka berhenti, tahan disitu saja, jangan ditambah dipaksa ditarik/ditekan lagi. Umumnya yang terutama perlu distretching adalah pada bagian leher, seringnya tegang pada penderita penyakit autoimun terutama penderita Rheumatoid Arthritis. Jangan biasakan badan pada satu posisi dalam jangka waktu lama, sebaiknya setiap 30 menit, berubah posisi. Hal ini dapat membantu supaya badan tidak terlalu kaku. Olahraga yang juga sering disarankan oleh para dokter adalah berenang, namun bagi yang sensitif dengan air dingin sebaiknya cari berenang di kolam renang air hangat. Air hangat bisa juga membantu meredakan terutama gejala nyeri pada penderita penyakit autoimun. Salah satu yang saya tahu menyediakan terapi air hangat dengan kolam renang air hangat adalah di klinik dharma daya lestari di daerah mampang, websitenya http://dharmadayalestari.com.

MH900438163

Salam

Advertisements

6 thoughts on “Olahraga untuk autoimun

  1. Salam kenal mba.

    Saya penderita autoimun RA alhamdulillah baru 5bulan. Sebelumnya saya suka olahraga surfing, tapi sudah agak lama vakum. Bila saya ikut surfing masih bolehkah mba?

    Terima kasih mba 🙂

    • Untuk ini saya tidak bisa menjawab, karena tiap individu beda-beda kondisinya, mungkin mbak bisa coba aktivitas ringan dulu di air, lihat bagaimana responnya, jika aman bisa dilanjutkan dengan paddling di papan surf ringan sebelum gerakan yang lebih berat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s