Apa itu penyakit autoimun?

0005608136W-1920x1280Tak kenal maka tak sayang.

Tentunya mau bagaimanapun juga anda tidak akan sayang dengan penyakit anda, tentu tidak ada seorangpun yang menginginkan dirinya menjadi sakit apalagi jika seumur hidup. Namun dengan mengenal penyakit anda, anda akan lebih bisa menerimanya dan hidup dengannya. Itu adalah langkah awal dalam penanganan penyakit anda. Penyakit autoimun adalah penyakit dimana sistem kekebalan tubuh seseorang menyerang jaringan sehat orang tersebut sendiri. Sistem kekebalan tubuh atau disebut sistem imun berfungsi untuk melindungi tubuh dari ‘ancaman’ yang dapat membahayakan tubuh seperti bakteri dan virus. Sistem imun pada penderita autoimun tidak bisa membedakan antara jaringan yang sehat dan ‘ancaman’, ‘self’ dan ‘nonself’. Sistem imunnya diaktifkan untuk melawan jaringan sehat penderitanya sendiri. Penyebab terjadinya kesilapan tersebut hingga saat ini belum diketahui meskipun beberapa teori telah diutarakan. Teori yang cukup sering diungkapkan adalah virus sebagai pemicu pada individu yang rentan secara genetik, namun hingga sekarang teori ini belum dapat dibuktikan betul. Hal ini bukan berarti penyakit autoimun adalah penyakit menular karena bukan virusnya yang menyerang dan menjadikan penyakit tapi memicu sistem imun menyerang sehingga menjadi penyakit. Kelainan genetik telah banyak dibuktikan terkait dengan penyakit autoimun, namun hanya menyebabkan kerentanan seseorang terkena penyakit autoimun, sebagai faktor risiko dan bukan sebagai pemicu. Adanya riwayat keluarga dengan penyakit autoimun bisa membantu mendukung diagnosis penyakit autoimun pada seorang individu yang dicurigai menderita penyakit autoimun meskipun tidak sama jenisnya. Seringkali ada salah pemahaman bahwa pada penyandang autoimun sistem imun tubuhnya tidak lagi menyerang ‘musuh asing’ seperti virus atau bakteri, hal ini saya coba luruskan bahwa sistem imun tubuh penyandangnya masih menyerang musuh-musuh asing tersebut namun karena error juga menyerang diri sendiri dimana seharusnya tidak. Yang membuat seorang penyandang rentan terkena infeksi umumnya adalah karena obat-obatan yang dikonsumsinya yang umumnya bersifat menekan imunitas.

Dalam perkembangan dunia medis barat, belum didapatkan obat yang dikatakan dapat menyembuhkan penyakit autoimun, namun penelitian terus dikembangkan untuk itu. Meskipun begitu, penyakit ini dapat dikontrol dengan obat-obatan yang ada, di non-aktifkan, ‘di buat tidur’ yang disebut penyakitnya remisi. Jika remisi bisa dicapai maka progesifitas penyakitnya dapat ditekan atau dilambatkan. Pencapaian remisi ini tidaklah mudah. Penanganan untuk penyakit autoimun adalah tergantung dari masing-masing jenisnya. Penyakit autoimun ada yang akut yaitu muncul mendadak, bersifat sementara namun umumnya membutuhkan penanganan segera untuk mengatasi kegawatdaruratannya, lalu ada yang kronik yaitu bersifat lama di derita karena sulit atau belum dapat disembuhkan. Kebanyakan penyakit autoimun adalah penyakit kronik yang menurut teori medis belum dapat disembuhkan. Tiga penanganan utama penyakit autoimun diantaranya adalah untuk mengatasi gejala atau disebut simtomatik, untuk mengganti zat vital yang sudah tidak bisa lagi cukup diproduksi tubuh atau mempertahankan fungsi sistem organ, serta untuk menekan sistem imun penderitanya. Penyakit autoimun dapat sebatas jaringan pada suatu organ tertentu (organ spesifik) atau jaringan pada beberapa bagian tubuh hingga sistem menyeluruh (sistemik). Tidak jarang seseorang menderita lebih dari satu penyakit autoimun sehingga membuat kondisi orang tersebut lebih kompleks. Penyakit autoimun dapat terjadi pada semua individu di usia berapapun meskipun umumnya lebih sering pada usia produktif serta lebih sering pada wanita daripada pria. Dibawah ini saya akan menjelaskan sedikit mengenai beberapa penyakit autoimun, diantaranya:

A. Alopecia Areata

800px-Allopecia_areataPada penyakit ini, sistem imun penyandang menyerang folikel-folikel rambut yaitu struktur tempat tumbuhnya rambut. Hal ini menyebabkan kerontokan rambut sehingga menimbulkan daerah-daerah botak mulus pada kepala atau bagian tubuh berambut lainnya. Daerah botaknya bisa kecil atau luas hingga menyebabkan botak total atau seluruh tubuh. Selain kerontokan rambut, penyandang dapat merasakan gejala gatal-gatal atau rasa terbakar pada kulit. Selain itu penyakit ini dapat bermanifestasi ke kuku berupa cekung atau permukaan kasar. Umumnya penyakit ini dihubungkan dengan stress sebagai pemicunya, maka sering penderitanya disarankan untuk manajemen stress meskipun hal ini masih diperdebatkan. Pengobatan yang dapat diberikan pada penyandang ini adalah dengan terapi untuk menekan sistem imun. Jika daerah botaknya kecil dapat secara spontan membaik sendiri. Penyakit ini tidak membahayakan nyawa namun dapat memberikan beban psikologis pada penyandang karena mengubah penampilan penyandang tidak sesuai dengan kehendaknya.

B. Psoriasis

512px-PsoriasisplaquePsoriasis adalah penyakit autoimun yang menyerang kulit. Penyakit ini mempengaruhi siklus sel kulit hingga sel kulit baru menjadi dewasa terlalu cepat padahal sel-sel yang sudah tua tidak bisa mengikuti kecepatannya untuk gugur sehingga menyebabkan terjadi penimbunan sel-sel di permukaan kulit. Terdapat lima tipe berdasarkan bentuknya, yaitu plaque, guttate, inverse, pustular, and erythrodermic. Tipe yang paling umum adalah psoriasis plak (plaque) atau disebut juga psoriasis vulgaris yang terlihat sebagai bercak merah yang berlapis putih-keperakan jadi bersisik. Plak tersebut dapat muncul diantaranya di siku, lutut, kulit kepala (seperti ketombe), atau punggung. Plak tersebut dapat sebagai bercak-bercak kecil namun kemudian dapat menyatu membentuk plak yang lebih besar hingga ke seluruh tubuh. Penyebaran psoriasis diungkapkan dapat mengikuti Koebner phenomenon, yaitu dimana jika plak di garuk atau terjadi luka linier dari plak akan terjadi penyebaran mengikuti garis linier tersebut hingga memicu terjadi penyebaran lebih luas lagi. Selain ke kulit, penyakit ini juga tidak jarang menyerang kuku kedua tangan dan kaki (Psoriatic nail dystrophy) yang umumnya menjadi cekung. Selain terlihat, penyakit ini juga bisa membuat penyandang merasa gatal-gatal meskipun pada beberapa kasus tidak terlihat kelainan pada kulit sama sekali hanya terasa gatal-gatal. Peradangan akibat serangan sel-sel imun selain di kulit juga dapat terjadi di sendi-sendi yang dikenal dengan Psoriatic arthritis sehingga selain psoriasisnya penderita juga akan merasakan gejala-gejala radang sendi seperti nyeri dan kaku sendi. [image by Eisfelder at de.wikipedia [GFDL (http://www.gnu.org/copyleft/fdl.html) or CC-BY-SA-3.0 (http://creativecommons.org/licenses/by-sa/3.0/)%5D, from Wikimedia Commons]

Seperti Alopecia areata, Psoriasis sering dihubungkan dengan stress selain daripada faktor pemicu lainnya. Hubungan antara Psoriasis dan stress lebih banyak penelitiannya meskipun belum jelas bagaimana/seperti apa hubungannya, namun penyandangnya sering disarankan untuk manajemen stress. Penanganan untuk Psoriasis adalah umumnya dengan obat penekan sistem imun baik obat luar atau obat minum/injeksi tergantung dari masing-masing kasus. Lapisan atas plak-nya sensitif maka perlu diperhatikan untuk berhati-hati dalam melepaskan sisiknya, yaitu bisa dengan menggunakan pelembab atau bath oils supaya tidak membuat luka pada plak-nya. Ada juga penggunaan phototherapy pada beberapa kasus, yaitu dengan menggunakan sinar ultraviolet. Sinar matahari alami secukupnya baik untuk penderita psoriasis namun harus dijaga jangan sampai kena sunburn. Yang perlu juga menjadi perhatian penyandang adalah kadar kolesterol darah karena kadar yang tinggi sering dikaitkan dengan Psoriasis. Suatu kondisi yang perlu menjadi perhatian meskipun sangat jarang adalah Generalized Pustular Psoriasis (GPP) yang merupakan kegawatdaruratan medis dimana pada seluruh tubuhnya berupa kulit melepuh dan plak dalam. Penyandang perlu segera dibawa ke unit intensif luka bakar untuk segera di tangani karena dapat kehilangan banyak cairan sehingga menjadi dehidrasi berat. Serangan akut ini diduga dipicu oleh beberapa jenis obat, infeksi serta kehamilan. Yang sering tidak salah dipersepsi adalar bahwa psoriasis disangka hanya merupakan penyakit kulit, padahal psoriasis termasuk ke dalam penyakit autoimun sistemik.

C. Grave’s Disease

Ini adalah penyakit autoimun yang menyerang kelenjar tiroid (gondok) yaitu kelenjar di leher yang menghasilkan hormon tiroid. Pada umumnya hormon berfungsi sebagai regulator homeostasis (keseimbangan) untuk metabolisme, mood, atau lainnya. Grave’s disease menyebabkan kelenjar tiroid menjadi terlampau aktif (hipertiroid) sehingga menghasilkan hormon tiroid lebih dari yang dibutuhkan. Gejala yang ditimbulkan diantaranya adalah jantung berdebar-debar (palpitasi), penurunan berat badan meskipun nafsu makan tetap atau bahkan meningkat, keringat berlebih, hiperaktif, mata menonjol (proptosis), tangan gemetar (tremor), sulit tidur (insomnia), intoleransi terhadap panas, mudah emosi, gangguan emosional, dan kegelisahan. Karena peningkatan keaktifan kelenjar ini, maka ukurannya pun membesar sehingga dapat terlihat atau diraba sebagai benjolan di leher.

Proptosis_and_lid_retraction_from_Graves'_DiseasePenanganan penyakit ini adalah dengan menekan keaktifan kelenjar tiroid untuk mengurangi produksi hormon tiroid. Hal ini dapat dilakukan dengan pengobatan antitiroid, radioiodine atau pengangkatan sebagian atau seluruh kelenjar tiroid (tiroidektomi). Mata sebaiknya mendapatkan perhatian khusus oleh penderita Grave’s disease karena dampak penyakitnya kepada mata dapat besar. Kondisi yang meski jarang tapi perlu diketahui dan disadari dapat terjadi pada hipertiroid yang tidak dikontrol dengan baik adalah Thyrotoxic crisis (Thyroid storm), yaitu suatu kegawatdaruratan yang terjadi akibat peningkatan hormon tiroid secara mendadak dan drastis. Serangan ini dapat ditandai dengan penurunan kesadaran, demam, irama jantung tidak teratur, tekanan darah sangat rendah, dapat hingga koma. Maka adalah penting sekali untuk mengontrol kadar hormon tiroidnya. [image by Jonathan Trobe, M.D. – University of Michigan Kellogg Eye Center (The Eyes Have It) [CC-BY-3.0 (http://creativecommons.org/licenses/by/3.0)%5D, via Wikimedia Commons]

Pada pria Asia dengan Grave’s disease perlu diperhatikan terdapat suatu serangan yang dinamakan Thyrotoxic Periodic-Paralysis (TPP). Terjadi kekurangan elektrolit kalium di darah berhubungan dengan kelebihan hormon tiroid sehingga menyebabkan kelemahan otot hingga lumpuh. Jika tidak ditangani segera dengan baik dapat membahayakan nyawa karena dapat menyebabkan kelumpuhan otot pernafasan. Kelemahan otot biasa mulai dari kedua kaki naik ke sisa bagian tubuh lainnya. Serangan ini perlu dibedakan dengan Guillain Barre Syndrome (GBS) yang menunjukkan manifestasi yang serupa namun merupakan suatu kondisi akut lain akibat autoimun. TPP ini lebih umum terjadi pada pria Asia daripada wanita. Serangan ini biasanya dipicu oleh istirahat setelah olahraga/aktivitas yang berat, minuman beralkohol dan konsumsi tinggi garam dan karbohidrat. Pada individu yang pernah kena serangan ini maka perlu sangat diperhatikan untuk mengendalikan kadar hormon tiroidnya selain daripada mengindari pemicunya selama masih dalam keadaan hipertiroid.

D. Hashimoto’s Disease

MP900341434Sebaliknya dengan Grave’s disease, Hashimoto’s disease umumnya menyebabkan kelenjar tiroid kurang aktif (hipotiroid) sehingga tidak menghasilkan cukup hormon tiroid. Gejala yang ditimbulkannya diantaranya peningkatan berat badan, gangguan emosional, kelelahan tanpa sebab yang jelas, kelemahan tungkai terutama tungkai bawah, sulit mengingat serta mengantuk. Dapat juga terlihat/teraba benjolan di leher dikarenakan kelenjar membesar karena sel-sel kelenjar tiroid dipaksa untuk menghasilkan lebih banyak hormon. Umumnya kadar kolesterol di dalam darah diatas normal sehingga perlu menjadi salah satu perhatian. Jika sudah membutuhkan penanganan maka akan diberikan terapi hormon tiroid untuk mengganti hormon tiroid yang kurang. Dalam penanganan penyakitnya perlu sangat di monitor kadar hormon tiroidnya karena jangan sampai menjadi berlebih.

E. Celiac Disease

breadsCeliac disease adalah penyakit autoimun yang menyerang jaringan usus halus sebagai respon dari intoleransi terhadap produk gluten yaitu sebuah substansi yang terkandung dalam gandum. Semakin lama, kerusakan jaringan yang ditimbulkan dapat menyebabkan gangguan absorpsi (malabsorpsi) sehingga penderitanya menjadi tidak mendapatkan gizi yang cukup. Hal ini bisa berdampak kepada organ-organ tubuh lainnya karena tidak cukup mendapat gizi yang dibutuhkan untuk berfungsi dengan baik. Pada anak-anak, hal ini bisa menyebabkan gangguan pertumbuhan dan perkembangan. Gejala yang ditimbulkan diantaranya penurunan berat badan, nyeri perut, kembung, diare, pusing atau sakit kepala dan fatigue, baal atau kesemutan, serta tenggorokan rasa terbakar. Anemia sering terjadi pada penyakit ini karena kekurangan zat besi.

Penanganan penyakit ini adalah dengan menghindari substansi yang menyebabkan intoleransinya. Penyandang perlu mempelajari bahan makanan mana yang mengandung gluten serta menghindarinya. Tidak jarang seseorang dengan Celiac disease juga intoleransi terhadap laktosa, maka ada yang menyarankan juga untuk menghindari produk susu. Selain itu, suplemen multivitamin dapat bermanfaat untuk penyandang. Suatu kondisi yang lebih berat dinamakan Refractory celiac disease, yaitu suatu kondisi ganas dari Celiac disease dimana dikatakan merupakan sebuah kanker. Pada kondisi ini, meskipun telah dilakukan diet ketat tanpa gluten tetap saja gejalanya tidak membaik sehingga penanganannya adalah dengan pemberian obat-obatan penekan sistem imun serta memastikan nutrisi tercukupi. Pada kasus yang lebih berat, pemberian nutrisi harus diberikan melalui infus.

F. Addison’s Disease

pizzaSeperti halnya Grave’s disease dan Hashimoto’s disease yang merupakan penyakit autoimun yang menyebabkan gangguan hormon dan diberi nama atas ahli yang pertama kali mendeskripsikan penyakitnya, Addison’s disease juga begitu. Akan tetapi, pada Addison’s disease yang diserang oleh sistem imun adalah kelenjar adrenal yang letaknya diatas ginjal yang menghasilkan hormon steroid berupa mineralokortikoid, glukokortikoid serta gonadokortikoid. Pada penyakit ini, terjadi insufisiensi adrenal sehingga produksi hormon steroidnya kurang. Penyakit ini termasuk jarang, progresifitasnya lambat dan biasanya gejala belum terlalu spesifik seperti nyeri perut, pusing/’keleyengan’ (kepala terasa ringan) atau kelemahan hingga terjadi kerusakan jaringan yang luas. Gejala yang lebih jelas diantaranya badan kurang energi/lemas (fatigue) dan lemah, penurunan berat badan dan nafsu makan, hiperpigmentasi terutama di daerah yang kena matahari tapi juga bisa di daerah yang tidak terkena matahari seperti garis-garis telapak tangan atau gusi, keleyengan atau pusing hingga hampir pingsan atau pingsan karena tekanan darah rendah yang lebih terasa ketika berdiri atau duduk, mual muntah, gangguan emosional, hipoglikemi (gula darah kurang) serta ngidam makanan yang asin.

Yang perlu menjadi perhatian karena dapat membahayakan nyawa adalah Addisonian crisis, yaitu kegawatdaruratan yang terjadi ketika kadar hormon steroid di dalam tubuh menjadi sangat kurang padahal sedang dibutuhkan untuk menghadapi suatu stress seperti infeksi atau operasi. Serangan ini menyebabkan nyeri menjalar mendadak di perut, kaki atau punggung bagian bawah, muntah dan diare yang diikuti dengan dehidrasi, hilang kesadaran hingga koma, tekanan darah rendah atau syok. Tidak jarang penderita baru mengetahui mengidap penyakit ini setelah terkena serangan krisis ini. Selain serangan ini, gula darah juga perlu dipantau jika sering mendapat serangan hipoglikemi karena serangan hipoglikemi yang berat adalah kegawatdaruratan karena dapat membahayakan nyawa. Serangan hipoglikemi ditandai dengan rasa lemas, pusing, lapar dan gemetar, jika sudah berat bisa kehilangan kesadaran. Pola diet perlu sangat diperhatikan dan diatur pada penderita tersebut untuk mencegah serangan hipoglikeminya. Addisonian adalah istilah yang digunakan untuk merujuk pada penderita Addison’s disease. Penanganan untuk penderita Addison’s disease adalah dengan terapi hormon untuk mengganti hormon steroid yang kurang. Di negara berkembang, penderita Addison’s disease umumnya membawa sebuah kartu identifikasi Addisonian yang memberikan instruksi jika terjadi Addisonian crisis sedangkan pasiennya tidak sadarkan diri agar nyawanya dapat terselamatkan.

G. Antiphospholipid Syndrome (APS)

Hdw_heartattackIni adalah kelainan koagulasi darah yaitu kelainan pembekuan/pengentalan darah. Pada kelainan ini terjadi hiperkoagulabilitas akibat sistem imun yang menyerang beberapa protein normal di dalam darah. Protein-protein tersebut mempengaruhi proses pembekuan darah. Kekurangan protein-protein tersebut menyebabkan kecenderungan terjadi bekuan-bekuan darah sehingga dapat menyumbat pembuluh darah. Penyumbatan pembuluh darah di organ seperti otak dapat menyebabkan stroke atau serangan jantung di organ jantung. Penyumbatan pembuluh darah balik (vena) di kaki dapat menyebabkan kaki bengkak atau nyeri yang dikenal sebagai Deep Vein Thrombosis (DVT). Hal ini bisa berbahaya jika bekuan darah terlepas dan terbawa ke organ vital seperti otak dan jantung dan menyebabkan penyumbatan pembuluh darah pada organ tersebut.

Tidak jarang penyandang terdeteksi mengidap kelainan ini karena mengalami komplikasi kehamilan yaitu keguguran berulang, melahirkan prematur atau preeklampsia (kondisi ketika hamil dengan tekanan darah tinggi). Kelainan ini dapat memberikan gejala diantaranya migrain (sakit kepala sebelah), pusing, gangguan mengingat dan konsentrasi, serta perdarahan spontan karena kekurangan trombosit. Kelainan ini sering dikaitkan dengan Lupus dimana beberapa kali ditemukan APS yang berkembang menjadi Lupus. Penanganan APS adalah dengan pemberian pengencer darah serta dalam beberapa kasus juga dengan penekan sistem imun. Terdapat suatu kondisi kegawatdaruratan yang jarang namun perlu di waspadai karena membahayakan nyawa yaitu Catastrophic Antiphospholipid Syndrome (CAPS) atau Ashershon’s syndrome, suatu bentuk ekstrim dari APS dimana terjadi penyumbatan di pembuluh darah di beberapa organ sekaligus.

H. Scleroderma (Systemic Sclerosis)

Seperti Psoriasis, Scleroderma adalah juga penyakit autoimun yang utamanya menyerang kulit. Namun Scleroderma tidak sama dengan Psoriasis dalam menyerang kulitnya. Pada Scleroderma sebagai respon dari proses autoimun beberapa sel-sel memproduksi kolagen dengan tujuan untuk reparasi jaringan jika ada yang rusak, namun produksinya tersebut berlebih. Kolagen adalah protein utama untuk struktur jaringan ikat. Hal ini menyebabkan terjadi pengerasan kulit. Jaringan ikat tidak hanya terdapat di kulit namun di bagian tubuh lain juga seperti pembuluh darah, sendi-sendi dan organ-organ sehingga bisa menyebabkan pengerasan bukan hanya di kulit makanya dapat dikatakan sistemik. Terdapat dua gejala awal yang umum didapatkan pada penderita Scleroderma yaitu ujung-ujung jari tangan berubah warna karena pengaruh dingin atau stress emosional yang dikenal dengan Raynaud’s phenomenon sehingga terasa baal atau nyeri serta jari-jari tangan menjadi kaku dan gembung. Gejala yang pertama terjadi karena penumpukan kolagen di pembuluh darah sehingga lumen pembuluh darah menyempit dan ketika kena pengaruh dingin atau stress emosional reaksinya berlebih sehingga membuat lumennya semakin menyempit.

MercMorpheaKulit yang terserang pada penderita Scleroderma akan terlihat berupa pengerasan berbentuk oval atau memanjang. Karena pengerasan ini, dapat terjadi restriksi pergerakan pada daerah yang terkena. Terdapat dua tipe Scleroderma yaitu Scleroderma terbatas (limited) atau dikenal dengan CREST syndrome serta Scleroderma tersebar (diffuse). Pada Scleroderma terbatas, daerah kulit yang mengeras terbatas dan mencakup CREST yang merupakan singkatan dari Calsinosis (deposit kalsium dibawah kulit dan di jaringan), Raynaud’s phenomenon, Esophageal dysmotility karena pengerasan usus sehingga pergerakan usus tidak baik menyebabkan rasa terbakar di tenggorokan dan gangguan absorpsi zat gizi, Sclerodactyly yaitu penebalan kulit jari-jari tangan, dan Telangiectasis yaitu pelebaran pembuluh darah kecil yang terlihat sebagai bintik-bintik merah di bawah kulit. Tipe ini tidak banyak melibatkan organ-organ. Di lain pihak, lebih banyak daerah kulit yang mengeras pada Scleroderma tersebar. Terkadang didapatkan radang pada sendi dan otot serta keterlibatan organ-organ dapat hingga fatal. [image by Leith C Jones at en.wikipedia [CC-BY-3.0 (http://creativecommons.org/licenses/by/3.0)%5D, via Wikimedia Commons]

Penanganan untuk Scleroderma meliputi pemberian obat penekan imun serta obat-obatan untuk menangani masalah pembuluh darah pada penyandang. Penelitian masih dilakukan untuk mendapatkan obat yang dapat efektif menurunkan produksi kolagen. Beberapa obat telah tersedia namun masih diperdebatkan efektifitasnya. Yang perlu diperhatikan oleh penyandang Scleroderma adalah Scleroderma renal crisis yaitu suatu kegawatdaruratan medis yang menyebabkan tekanan darah mendadak sangat tinggi sehingga terjadi gagal ginjal akut. Serangan akut ini lebih umum terjadi pada penyandang Scleroderma tersebar dan umumnya dikaitkan dengan penggunaan obat penekan imun/anti-radang golongan kortikosteroid. Oleh karenanya dokter biasanya akan berhati-hati dalam pemberian kortikosteroid pada penyandang scleroderma dan perlu di monitor dengan baik.

I. Myasthenia Gravis

Dari namanya dalam bahasa yunani dan latin Myasthenia gravis diartikan sebagai kelemahan otot dan serius. Dan memang itulah Myasthenia gravis yaitu suatu penyakit autoimun yang karateristiknya adalah kelemahan otot yang perlu dianggap serius. Agar otot dapat digerakkan, otot butuh stimulasi dari saraf. Komunikasi antara saraf dan otot untuk stimulasi tersebut melalui molekul yang dilepaskan ujung-ujung saraf motorik (neurotransmitter) dan ditangkap oleh otot. Pada otot terdapat yang dinamakan reseptor yang akan menangkap neurotransmitter tersebut sehingga stimulasi berjalan. Neurotransmitternya adalah acetylcholine (ACh) dan receptornya adalah nicotinic acetylcholine receptor (nAChR). Yang terjadi pada Myasthenia gravis adalah sistem imun yang menyerang nAChR sehingga stimulasi kurang. Kelemahan otot yang terjadi bersifat fluktuatif yaitu bahwa setelah beraktifitas otot akan semakin lemah namun kelemahan tersebut akan berkurang setelah istirahat, makanya akan terasa lebih kuat di pagi hari dan lemah di malam hari. Karena hanya menyerang stimulasi untuk gerak maka kelemahan ototnya tidak disertai gejala nyeri otot.

CongenitalptosisMyasthenia gravis bisa mempengaruhi otot manapun yang dapat penyandang gerakkan secara sukarela. Penyakit ini bisa ringan hingga fatal. Biasanya yang mulanya terkena adalah otot mata dan kelopak mata, sehingga memberikan gejala penglihatan ganda (diplopia) dan kelopak mata jatuh seperti orang ngantuk (ptosis). Sebagian kecil penyandang hanya sebatas di mata saja yang dinamakan Ocular myasthenia, namun sisanya kemudian berkembang lebih umum dan menyerang otot-otot lainnya. Jika ini terjadi gejalanya bervariasi tergantung otot mana saja yang terkena. Bisa kena otot menelan sehingga sulit menelan, atau otot kaki sehingga sulit berjalan hingga otot pernafasan hingga sulit bernafas. Kondisi fatal adalah jika terjadi Myasthenic crisis dimana penyandang jadi sangat sulit bernafas dan/atau menelan. Terapi yang diberikan umumnya adalah selain obat penekan imun juga obat acetylcholinerase inhibitor untuk mencegah penghancuran ACh sehingga menumpuk untuk menempel pada nAChR. Tumor pada thymus atau dikenal dengan Thymoma sering dihubungkan dengan Myasthenia gravis. Thymus adalah organ yang merupakan bagian dari sistem imun. Beberapa penyandang yang mempunyai Thymoma dikatakan dapat bermanfaat dengan dilakukan pengangkatan thymus-nya (thymectomy) bagi Myasthenia gravis-nya. Dokter penyandang yang akan bisa mempertimbangkan hal ini. [image by Andrewya (Own work) [Public domain], via Wikimedia Commons]

J. Sjögren’s Syndrome

???????????Sjögren’s syndrome adalah penyakit autoimun sistemik yang menyerang jaringan kelenjar eksokrin yang menghasilkan cairan pelumas/pelembab seperti air mata, air liur dan keringat. Berbeda dengan kelenjar endokrin yang menghasilkan hormon dan langsung dikeluarkan ke pembuluh darah, kelenjar eksokrin memiliki saluran khusus untuk mengeluarkan produk esensialnya. Sebagai akibat dari diserangnya kelenjar eksokrin tersebut, produksi cairan pelumas/pelembab tersebut menjadi kurang sehingga menimbulkan gejala mata kering, mulut kering yang bisa berdampak bibir kering dan pecah-pecah dan kulit kering. Kekeringan ini bisa berakibat infeksi atau iritasi sehingga perlu untuk diatasi. Namun, penyakit ini tidak hanya sebatas masalah kekeringan. Penyakit ini bisa menyerang organ-organ serta sendi-sendi juga selain daripada kelenjar eksokrin. Sehingga terdapat gejala-gejala lain yang dapat dirasakan penyandang seperti gejala-gejala radang sendi, kesemutan dan/atau baal, fatigue, Raynaud’s phenomenon dan lainnya. Gejala-gejala lain ini mirip dengan gejala penyakit autoimun sistemik lainnya. Dikarenakan adanya gejala-gejala lain yang menyertai selain gejala spesifiknya menyebabkan penyandang biasanya telat atau salah di diagnosis. Gejala-gejala spesifik utamanya yaitu mata dan mulut kering biasanya tidak terlalu diindahkan oleh orang pada umumnya sehingga biasanya bukan menjadi keluhan utama penderita berobat.

Penyakit ini memang juga bisa muncul akibat penyakit autoimun lain seperti contohnya Lupus atau Rheumatoid arthritis yang dinamakan Secondary sjögren’s syndrome. Namun, penyakitnya juga bisa berdiri sendiri dan bukan akibat dari penyakit autoimun lain yang dinamakan Primary Sjögren’s Syndrome (pSS). Hal ini perlu diperhatikan karena dengan perjalanan penyakit dan pemicu yang berbeda bisa memberikan dampak yang berbeda serta penanganannya juga dapat berbeda. Penanganan untuk penyakit ini umumnya adalah untuk menekan sistem imun serta mengatasi kekeringan yang terjadi. Untuk mata biasa digunakan tetes mata air mata buatan (artificial tears), untuk mulut bisa dengan banyak minum serta lip balm untuk bibir yang pecah-pecah, untuk kulit kering bisa menggunakan pelembab. Tidak ada kegawatdaruratan akut yang spesifik untuk penyakit ini, namun pada kasus berat bisa menyebabkan kegagalan organ yang membahayakan nyawa. Pada sebagian kecil penyandang dengan Sjögren’s Syndrome muncul limfoma, yaitu kanker kelenjar getah bening. Menurut penelitian para ahli, munculnya limfoma tidak berhubungan dengan keparahan penyakit namun sepertinya ada pengaruh kerentanan genetik.

K. Rheumatoid Arthritis (RA)

Rheumatoid_ArthritisSeperti juga Sjögren’s syndrome, Rheumatoid arthritis adalah penyakit autoimun sistemik namun karakteristik utamanya adalah menyerang jaringan sendi-sendi bukan kelenjar eksokrin. Meskipun penyakit autoimun lain juga bisa menyerang sendi dan menyebabkan radang sendi namun berbeda dengan RA yang dapat berdampak kerusakan berupa erosi yang menyebabkan deformitas hingga sudah tidak lagi dapat berfungsi dengan baik. Pada sendi terdapat kapsul yang melindungi sendi. Sel-sel pada bagian dalam kapsul inilah yang diserang oleh sistem imun pada RA. Kerusakan kapsul tersebut akhirnya bisa menyebabkan dikeluarkannya protein-protein yang akan merusak tulang dan tulang rawannya. Tipikal dari RA adalah beberapa sendi yang terkena dan sendi yang terkena simetris yang artinya sendi pada kedua sisi tubuh terkena sebagai contoh kedua lutut terkena, atau kedua siku terkena meskipun terkadang tidak bersamaan dan derajat keparahannya tidak sama. Biasanya ini yang membedakannya dengan Osteoarthritis yaitu radang sendi lain yang bukan penyakit autoimun. Sendi yang umum terkena adalah sendi-sendi jari, pergelangan tangan, pergelangan kaki, serta lutut. Gejala-gejala radang sendi yang muncul diantaranya sendi terasa kaku dan nyeri, terlihat bengkak dan merah serta terasa hangat. Deformitas yang umum terjadi adalah pada jari-jari tangan yang dinamakan ‘ulnar deviation’, yaitu jari-jari reposisi miring ke arah jari kelingking. Deformitas yang telah terjadi bersifat permanen berarti tidak dapat diperbaiki kembali. Begitu juga seperti Sjögren’s syndrome yang adalah penyakit autoimun sistemik, RA tidak sebatas radang sendi saja namun juga menyerang organ-organ tubuh sehingga memberikan gejala-gejala yang mirip dengan penyakit autoimun sistemik lainnya. [image by James Heilman, MD (Own work) [CC-BY-SA-3.0 (http://creativecommons.org/licenses/by-sa/3.0) or GFDL (http://www.gnu.org/copyleft/fdl.html)%5D, via Wikimedia Commons]

Salah satu karakteristik utama dari penyakit ini adalah gejala ‘morning stiffness’ yaitu kekakuan sendi-sendi di pagi hari yang berlangsung 30 menit hingga 1 jam, namun biasanya untuk diagnosa RA kriterianya adalah minimal 1 jam. Meskipun dengan karakteristik tersebut, tidak jarang di tahap awal penyakit penderita telat atau salah di diagnosis karena gejalanya yang dapat mirip dengan penyakit autoimun lainnya dan radang sendi yang cukup umum pada penyakit lain termasuk selain penyakit autoimun. Selain itu, gejala juga pada tahap awal bisa belum spesifik seperti morning stiffness yang hanya berlangsung hingga 30 menit atau gejala radang sendi namun tidak ada tanda-tanda erosi serta hasil-hasil pemeriksaan untuk RA yang ‘masih’ dalam batas normal. Yang lebih sulit lagi adalah tidak semua penyandang RA menunjukkan hasil pemeriksaan yang ‘positif’, terdapat juga pada beberapa penyandang yang sudah timbul erosi atau deformitas meskipun hasil pemeriksaannya tidak pernah ‘positif’ yang dikenal dengan Seronegative RA. Salah satu karakteristik lain dari RA adalah ‘rheumatoid nodule’ yaitu nodul yang umumnya keras dan ukurannya bervariasi dari seukuran kacang polong hingga buah jeruk. Nodul ini umumnya muncul di bawah permukaan kulit di atas tulang di tangan atau siku, namun bisa juga muncul di paru-paru atau organ lainnya. Nodul ini bisa muncul seiring dengan perjalanan penyakit.

Tidak seperti anggapan umum bahwa RA hanya terjadi pada orang tua, RA juga dapat terjadi pada orang muda terutama mereka yang berada di usia produktif. RA pada orang tua mungkin lebih ‘terlihat’ dengan adanya deformitas yang sudah berat dikarenakan baru terdeteksi pada usia tua padahal mungkin sudah muncul sejak usia lebih muda. Pada anak kecil juga dapat terjadi RA yang dinamakan Juvenile Rheumatoid Arthritis (JRA) yang  muncul pada anak dibawah usia 15 tahun. Penanganan untuk RA tujuannya selain untuk menekan sistem imun adalah untuk mencegah terjadinya deformitas sehingga penanganannya sering lebih agresif daripada Sjögren’s syndrome. Pada RA juga tidak ada kegawatdaruratan akut spesifik yang membahayakan nyawa selain daripada jika terjadi kegagalan organ atau penyumbatan pembuluh darah yang dapat berujung pada serangan jantung atau stroke. Menurut penelitian terbaru, penderita RA memiliki risiko lebih tinggi daripada orang normal untuk kena stroke atau serangan jantung. Sebuah teori menjelaskan bahwa peradangan yang terjadi pada RA menghasilkan kristal-kristal di pembuluh darah yang bisa menyumbat pembuluh darah. Penemuan ini membuat beberapa ahli mempertimbangkan menyertakan terapi pencegahan stroke dan serangan jantung dalam manajemen RA. Penelitian juga menyatakan bahwa penyandang RA mempunyai risiko lebih besar terkena osteoporosis yang dapat merupakan dampak langsung dari penyakitnya.

L. Multiple Sclerosis (MS)

MM900234753Pada Multiple sclerosis, sistem imun penyandang menyerang pembungkus pelindung saraf (mielin) otak atau tulang belakang (medulla spinalis) sehingga mengganggu fungsi saraf untuk berkomunikasi dengan saraf lain di otak, tulang belakang atau bagian lain tubuh. Selain menyerang mielin, sistem imun yang datang juga menyerang jaringan sekitar saraf. Kedua hal ini menyebabkan dapat timbulnya berbagai macam gejala-gejala gangguan saraf tergantung dari saraf di bagian mana yang terkena. Beberapa diantaranya adalah kesemutan, baal, sulit mengingat, sulit berkonsentrasi, kelemahan tungkai, penglihatan ganda atau kabur, kejang otot, bicara terganggu/tidak jelas, pusing hingga pusing berputar (vertigo), fatigue, gangguan keseimbangan dan koordinasi, serta gemetaran. Suatu karakteristik MS yang terjadi pada mata adalah radang pada saraf optik yang menyebabkan kehilangan penglihatan parsial atau hingga buta dan nyeri ketika menggerakkan mata (optic neuritis). Umumnya penyandang MS intoleransi terhadap panas yang bisa memicu serangan MS. Kerusakan yang terjadi dapat menyebabkan kemerosotan kinerja saraf yang tidak reversibel. Jika ini terjadi maka gejala gangguan saraf yang ditimbulkannya akan permanen.

Multiple sclerosis dibagi menjadi 4 tipe yaitu Relapsing-Remitting Multiple Sclerosis (RRMS), Secondary-Progressive Multiple Sclerosis (SPMS), Primary-Progressive Multiple Sclerosis (PPMS) dan Progressive-Relapsing Multiple Sclerosis (PRMS). Tipe yang paling umum adalah tipe yang pertama RRMS yang umumnya dialami penyandang di awal perjalanan penyakit. Pada tipe ini, penyakit bersifat serangan kambuhan (relapse) dengan periode remisi (pemulihan). Periode serangannya serta pemulihannya bervariasi tiap penderita. Serangannya dapat langsung berat namun kemudian dapat pulih dan normal kembali. Ini membuat diagnosis menjadi sulit jika dalam periode remisi. Tipe yang kedua dapat lanjutan dari RRMS dimana penyandang tetap mengalami periode serangan dan remisi namun ketika remisi penyakitnya tidak pulih betul, sudah ada gangguan permanen yang semakin progresif dari satu periode ke periode berikutnya hingga akhirnya tidak ada lagi serangan dan remisi hanya penyakitnya yang terus progresif. Tipe yang ketiga bersifat progresif dari awal tanpa periode serangan dan remisi, dimulai dengan gejala ringan hingga gangguan yang berat. Tipe yang terakhir adalah yang paling jarang dimana bersifat progresif dari awal namun disertai dengan periode serangan dan remisi dalam perjalanannya. Penanganan MS bertujuan untuk menekan sistem imun untuk mengontrol penyakit agar mencegah terjadinya serangan serta mencegah perkembangan RRMS menjadi SPMS selain untuk mengontrol gejala dan rehabilitatif untuk meningkatkan atau menjaga fungsi otak. Sayangnya hingga saat ini belum ada penanganan khusus untuk PPMS karena belum ditemukan obat yang dapat menekan progresifitas PPMS. Namun begitu, terapi untuk mengontrol gejala dan rehabilitatif dapat membantu.

M. Systemic Lupus Erythematosus (SLE)

ButterflyrashSystemic lupus erythematosus adalah penyakit autoimun yang paling populer meskipun tidak banyak yang mengetahui bahwa penyakit ini adalah penyakit autoimun. Sama seperti Sjögren’s Syndrome dan Rheumatoid arthritis dan sesuai dengan namanya. penyakit autoimun ini adalah sistemik. Namun, berbeda dengan Sjögren’s Syndrome dan RA, tidak ada jaringan spesifik yang menjadi khas untuk diserang oleh sistem imun pada SLE. Semua jaringan dan organ mempunyai kesempatan yang sama untuk diserang. Makanya SLE sering disebut sebagai ‘the great imitator’ di luar negeri dan ‘penyakit seribu wajah’ di Indonesia, karena gejalanya dapat sangat bervariasi antar penyandang. Pada Sjögren’s Syndrome yang diserang utamanya adalah jaringan kelenjar eksokrin, pada RA adalah jaringan sendi, sedangkan pada SLE tidak ada yang spesifik. Dengan begitu, dapat dimengerti bahwa gejala-gejala SLE bervariasi namun yang paling umum adalah ‘malar/butterfly rash’ yaitu ruam di wajah melibatkan hidung dan kedua pipi terlihat seperti kupu-kupu yang lebih jelas ketika dibawah sinar matahari atau demam, fatigue, rambut rontok, sariawan berulang yang umumnya tidak nyeri, nyeri atau kaku sendi, serta sensitif terhadap sinar matahari yang ditandai dengan berkembangnya gejala atau ruam-ruam pada kulit.

Dampak penyakit ini pada penyandangnya dapat sangat bervariasi tergantung dari perkembangan penyakitnya, ringan-beratnya penyakit, jaringan/organ yang terkena, respon terapi dan lainnya. Manajemen terapi yang baik umumnya memberikan hasil yang positif bagi penyandang sehingga tidak sering mengalami kondisi berat yang memerlukan perawatan di rumah sakit. Penanganan SLE perlu komprehensif karena melibatkan lebih dari satu jaringan/organ. Penyandang perlu di monitor dengan baik untuk menjaga fungsi organ atau jaringan yang masih baik. Tujuan dari penanganannya adalah selain untuk menekan sistem imun juga agar dapat mencegah kerusakan lebih lanjut dan mencegah terjadinya kerusakan organ-organ lain yang masih baik juga untuk mengatasi gejala dan meningkatkan atau mempertahankan fungsi jaringan/organ yang sudah kena.

N. Goodpasture’s Syndrome

lungsPenyakit autoimun ini jarang terjadi namun saya bahas disini karena adalah penyakit autoimun yang sangat dramatis baik dampak maupun progresifitasnya. Penyakit ini menyerang suatu struktur penyokong dan filter yang dinamakan membran basalis pada ginjal dan paru-paru yang penting untuk fungsi filtrasi ginjal dan paru-paru. Ginjal memiliki fungsi filtrasi untuk mengeluarkan zat-zat buangan sedangkan paru-paru untuk pertukaran gas oksigen dan karbondioksida. Penyakit ini berkembang dengan cepat dan gejala awalnya tidak khas sehingga penyandang biasanya baru terdeteksi setelah sudah terjadi kerusakan paru-paru yang luas dan gagal ginjal. Gejala awal tidak khas yang dialami penyandang diantaranya fatigue, batuk kering, pucat, mual, dan agak sesak nafas. Dalam perjalanannya penyandang dapat batuk darah dan kerusakan paru-paru berlangsung cepat. Biasanya kerusakan cepat paru-paru ini bersamaan dengan atau diikuti oleh gagal ginjal tidak lama setelahnya, sehingga tidak jarang penyandang sudah terlambat untuk diselamatkan. Penyandang yang masih dapat diselamatkan umumnya respon baik terhadap obat penekan imun dan akan di tangani dengan agresif. Penanganan juga berfokus untuk memperbaiki dan/atau mempertahankan fungsi paru-paru dan ginjal.

— # —

Diatas telah saya jelaskan beberapa penyakit autoimun namun masih banyak lagi penyakit autoimun lainnya seperti contohnya Diabetes Mellitus tipe 1, Inflammatory bowel disease, Ankylosing spondylitis atau Primary billiary cirrhosis. Namun pada dasarnya semua penyakit autoimun adalah akibat dari sistem imun penyandang yang menyerang penyandang sendiri. Hal ini menyebabkan penyandang autoimun umumnya mendapatkan terapi penekan sistem imun yang bisa menyebabkan penyandang lebih mudah terkena infeksi karena lebih rentan. Maka penting bagi tiap penyandang untuk memperhatikan hal ini dan berusaha menjaga agar tidak sering terkena infeksi seperti dengan menyiapkan masker jika ke tempat umum atau rajin mencuci tangan setelah menggunakan fasilitas umum, selain itu memperkuat dari dalam dengan asupan vitamin dari buah-buahan segar.

Persamaan lain semua penyakit autoimun adalah bahwa sistem imunnya ‘error’ yang meskipun sebabnya belum diketahui diperkirakan dapat dipicu oleh berbagai faktor yang umumnya faktor-faktornya serupa seperti virus, stress fisik maupun emosional atau faktor lingkungan lainnya. Memang antar tiap penyandang dapat berbeda faktor-faktornya dan belum dapat diketahui bagaimana mengetahui secara pasti pemicu masing-masing penyandang, namun hal ini dapat lebih mengarahkan untuk menyokong penanganan dengan mencoba mengontrol faktor-faktor tersebut yang bisa di kontrol. Penyandang perlu mengenali penyakitnya masing-masing karena meskipun judul penyakitnya sama namun perjalanan penyakitnya dapat berbeda serta faktor-faktor yang mempengaruhi dan memberi dampak pada tiap penyandang juga berbeda sehingga penanganannya pun akan berbeda. Saya menganggap penyakit saya sebagai anak bingung yang baru lahir dan terperangkap dalam badan saya. Oleh karenanya saya yang lebih dewasa perlu berusaha mengenalnya agar penyakitnya juga kenal dengan saya dan dapat diajak toleransi dan berdamai dengan saya. Memang karena saya yang lebih dewasa maka lebih banyak saya yang mengalah hingga akhirnya diharapkan si anak bingung itu sudah tidak bingung lagi karena sudah tumbuh dewasa atau tidak lagi terperangkap dalam badan saya.

Khusus untuk penyakit autoimun yang sistemik, memang umumnya tidak ada kegawatdaruratan akut spesifik kecuali jika terjadi kegagalan organ atau penyumbatan pembuluh darah yang berakibat stroke atau serangan jantung, namun umumnya dampak gejalanya lebih besar dan sulit di kontrol sehingga kualitas hidupnya lebih buruk, maka penting bagi penyandang untuk memperjuangkan dirinya bisa mempertahankan kualitas hidupnya. Penyandang perlu proaktif dan menjadi advokat bagi dirinya. Menjadi sangat penting bagi para penyandang penyakit-penyakit ini untuk banyak mengedukasi dirinya mengenai penyakitnya dan terus memperbarui pengetahuannya. Ada juga dikenal istilah Undifferentiated Connective Tissue Disease (UCTD) yaitu pengolongan penyakit dimana seorang individu menunjukkan tanda dan gejala penyakit autoimun yang menyerang jaringan ikat seperti SLE, RA serta Scleroderma namun belum dapat dikategorikan ke salah satu penyakit autoimun tersebut karena belum ada yang khas baik dari gejala maupun hasil pemeriksaan laboratorium atau pemeriksaan lainnya. Biasanya diagnosis ini ditegakkan oleh dokter agar dapat memulai terapi pada seorang penyandang meskipun penyakitnya belum jelas bentuknya. Ada juga Mixed Connective Tissue Disease (MCTD) dimana terjadi tumpang tindih 3 penyakit autoimun yang menyerang jaringan ikat yaitu SLE, Scleroderma serta Polymyositis. Yang juga perlu diperhatikan adalah bahwa obat-obat yang dikonsumsi penderita autoimun umumnya mengiritasi lambung (gastritis) sehingga sebaiknya proteksi lambung perlu menjadi perhatian.

Salam

Advertisements

86 thoughts on “Apa itu penyakit autoimun?

  1. Halo salam kenal nama saya dani 2tahun lalu saya autoimun MS sempat dirawat selama 2 minggu di RS .. setelah itu membaik 6 bulan kemudian autoimun saya kambuh tertular flu dari cucu saya ,sakit kepala vertigo muntah muntah lalu saya di rujuk ke igd ,, setelah itu saya membaik dan sekarang setelah 2 tahun berlalu menjalani pengobatan rutin saya sehat dan autoimun sudah dinyatakan tidak aktif.

  2. Malam Dok,

    Saya di diagnosis bullous pamphigoid krng leih 1 thn yang lalu,,, terkena hanya diarea wajah saja melenting seperti terkena luka bakar dan bisa membesar.

    Dan 6 bulan yg lalu saya jg terkena auto imun pada mata sebelah kanan mata pegal, area sekitar mata agak membengkak dan penglihatan kurang jelas.

    Dok penyakit ini timbul secara bergantian, sambung menyanbung, setelah kulit wajah sembuh dpt 1 minggu kemudian mata yg kena,

    Yg ingin saya tanyakan apakah ini akan berlangsung terus selamanya dok?
    Apa yg bisa menyebabkan saya menderita penyakit ini?
    Apa yg harus saya lakukan agar penyakit ini tidak kambuh lagi?
    Apakah ini penyakit yg berbahaya?

    Terima kasih sebelumnya Dokter

    • Salam, penyakit autoimun umumnya adalah penyakit yang kronis artinya lama di derita namun dapat dikendalikan hingga remisi. Ketika remisi penyakitnya tidak aktif maka gejala-gejala akan minimal atau sudah tidak lagi muncul sama sekali. Penyebab penyakit autoimun hingga saat ini belum diketahui pasti namun diperkirakan karena pengaruh genetik dan lingkungan eksternal. Sebaiknya konsultasi rutin ke dokternya, ubahlah pola hidup yang lebih sehat, kelola stress dan berusaha agar tidak kecapekan. Penyakit autoimun dapat berbahaya jika tidak dikendalikan dengan baik.

  3. Ibu dokter saya mau nanya saya sakit disendi pundak kiri kanan dan bengkak lutut kiri dan kanan kedokter cek ana if 1:1000 ana profil negatif semua. Crp tinggi dan laju endap darah tinggi. Asto dan ra factor negatif. Anti cap juga negatif..menurut BU dokter apakah saya termasuk sakit autoimun terima kasih ya mohon dibalas tjank

  4. Dok saya usia 28 thn 3 bln yg lalu hidung saya sempat tersumbat sebelah di priksa kata nya radang, dan 1 minggu setelah nya saya ngerasa semutan di kuping dan dada kiri, saya cek semua EKG sampai MRI kepala normal tidak ada apa2,dan di prediksi koresterol tinggi..saya cek lumayan tinggi trigsida nya saja, saya diet ketat sampai turun 11kg dalam 2 minggu, sesudah itu telapak tangan saya kalau tidur suka semutan dan bisa sampe siang baru hilang, saya cek k dr saraf di suru cek ANA tes dan hasil positif 1: 320 dan lanjut ke ana profile dan hasil negatif semua walau ada pergerakan dikit di beberapa komponen tapi masih di 0, dan saya sudah k 8 dokter di bilang bukan auto imun..tapi saya sekarang suka ngerasa jari2 kaki dan tangan kaya di tusuk2 jarum kadang di lengan juga, dan otot kaki dan tangan saya suka kedut2an apa saya kena auto imun dok? Tnks

  5. Pingback: Melalui Autoimun Dapat Belajar Banyak Hal! | Sahabat Autoimun

  6. Pingback: Belum Semua Mengenal Autoimun! | Sahabat Autoimun

  7. dr Andini. Saya menderita ITP sejak januari 2016. Dan dinyatakan boleh berhenti konsumsi obat steroid sejak awal agustus 2016. Saya sgt senang sekali. Namun, setelah putus obat, wajah saya jd belang2 putih seperti panu, kulit kepala gatal dan rambut rontok, dan kulit seluruh tubuh gatal2 bahkan melebar seperti urtikaria namun berpindah2 tempat. Apakah ini autoimun juga? APakah imun saya menyerang bagian lain dr tubuh saya???
    Mohon pencerahanny dokter.
    Terimakasih

  8. Assalamualaikum mbak..
    Nama saya dira, 17 tahun, penderita Myasthenia Gravis sejak satu tahun yang lalu..
    Awal2 didiagnosa MG saya masih mengkonsumsi mestinon 3 kali sehari, methylprednisolone 1 kali sehari..
    Tetapi, belakangan ini MG saya sering kambuh, terutama dibagian tenggorokan…terasa kaku sekali , sulit menelan dan saya juga kesulitan untuk bernafas. Beberapa kali saya sudah opname dan diberikan gammaras 6 botol untuk memulihkan keadaan saya. Tetapi hanya bertahan bbrp minggu saja, dan setelah itu saya kembali drop. Terakhir opname, MG saya drop dikarenakan saya terkena ISPA. Dan sekarang, obat yang saya konsumsi mestinon setiap 4 jam sekali, imuran 2 kali sehari, prednisolone 4 butir sekali minum,dan dikonsumsi 2 kali seminggu dan juga vitamin untuk kalsium.
    Bagaimana cara memulihkan kondisi saya agar normal kembali? Karena, semenjak opname terakhir, kondisi saya selalu drop. Dan sulit untuk menormalkan kondisi saya seperti semula. Apakah faktor cuaca panas juga menyebabkan kondisi saya drop? jika boleh, apakah mbak tau informasi ttg pengobatan khusus untuk Myasthenia Gravis?
    Mohon jawabannya. Terima kasih.

    • Salam mbak, banyak faktor yang dapat mempengaruhi, mbak mungkin dapat bergabung dengan yayasan myasthenia gravis indonesia, berbagi pengalaman dengan para penderita lain, mungkin ada yang mirip kondisinya.

  9. Saya sudah 5tahun punya psoriasis..
    Luka psoriasisnya ga sampe memerah,, hanya bersisik, tebal, seperti tumpukan ketombe. Paling parah sih dagingnya sampe keliatan bolong. Itu aja..

    Saat ini, di sekujur tubuh saya cuma ada 6spot luka psoriasisnya. Di telunjuk tangan kanan, 2 di tengkuk, di kelopak mata kanan, dengkul kiri, sama di jari tengah kaki kanan.

    Awalnya ada 9spot.. 3yg sudah hilang itu yg lukanya cukup parah.
    Sebelumnya pernah nutupin seluruh jidat… tp pd akhirnya hilang total setelah saya kena sunburn.

    Ada juga di kelopak mata kiri, smpe kelopak mata kiri ada bolongnya :-O Sama di dengkul kanan
    Tp alhamdulillaah, yg parah-parah sudah lewat & ga meninggalkan sisa 🙂
    .
    .
    Tp ga menutup kemungkinan bisa muncul spot2 lainnya jika saya ga bisa memanagemen stres & jaga pola istirahat+asupan nutrisi yg baik..
    Overall, umumnya luka2 psoriasis tsb ‘menggila’ setelah saya konsumsi obat pereda nyeri..
    Maklum, saya juga ada OA genu. Sering gak nahan sama nyerinya 😀
    .
    .
    .
    *semakin tau batasan diri, ternyata potensi diri semakin bisa digali.
    Alhamdulillaah, semua ini rezeki dari-Nya. Tiada yg tidak sempurna dari pemberian-Nya 🙂

  10. Salam kenal dok ..
    Nama saya aries…saya sudah 1 bulan ini sepertiny kena ALOPECIA AREATA. Soalnya dari saya cari-cari di internet gejalanya sama dengan yang saya alami, rontoknya rambut langsung banyak seperti pitak dan kuli kepala seperti cekung, dan pernah saya bawa ke dokter umum, katany kena jamur dan di beri obat ketokonazol dan salep, tapi setelah 1 minggu gak ada perubahan sama sekali, lama kelamaan malah melebar, tolong infonya dok….?

  11. Halo dokter..
    Terimakasih sdh membagi pengetahuannya lewat artikel ini.. saya berusia 27thn, saat ini sy menderita alopesia 😦 utk yg kedua kalinya, mulai 2014 sampai skrg blm sembuh total, saru area udah sembuh eh timbul lg di area yg lain. Pertama kali saya terkena penyakit ini thn 2004 dan sembuh thn 2008. Selama ini saya diberi obat semprot regrou, kapsul pantogar, dan vitamin seloxy. Nah kapsul pantogarnya saya ngga minum lagi dok krn pengaruh haid jd lbh lama dan wajah berjerawat. Apa sbnrnya fungsi pantogar tsb dok?
    Terimakasih byk sebelumnya ya dokter 🙂

  12. Dok anak saya usia 16 bulan beberapa minggu yg lalu di diagnosa terkena ITP. Gejalanya terdapat bintik2 kecil merah di bawah kulit seukuran ujung jarum di daerah kaki dan beberapa di badan serta lebam biru seperti habis terbentur padahal tidak. Kemudia dsa menanganinya dgn memberikan obat steroid, dgn sebelumnya mencoba melakukan transfusi trombosit dikarenakan trombositnya yg sangat rendah yaitu 11rb namum gagal dan malah drop di 7rb. Setelah opname 6 hari dan rutin memberikan steroid dgn dosis 15mg 3×1 hasil trombositnya naik menjadi 47rb. Sehingga anak saya boleh dibawa pulang dgn catatan dokter memberikan steroid oral selama 5 hari dgn dosis sama. Seminggu kemudian dilakukan cek ulang trombosit dan hasilnya 148rb.

    Saya mau tanya, bagaimana bisa tau spesifik penyakit autoimun apa yg diderita anak saya?
    Apa betul konsumsi susu sapi dan makanan/produk hasil olahan susu harus dihindari?
    Apa indikasi menggaruk2 kepala merupakan indikasi ada hal yg salah pada tubuhnya?krn dia sering sekali menggaruk2 kepalanya.

    Terima kasih dokter, bila berkenan mohon bantuannya 🙂

    • Salam by evyta, dari penjelasan ibu terlihat memang sesuai dengan ITP dan sudah mendapatkan penanganan yang sesuai. Untuk makanan semua berbeda tiap individu, jika ada makanan/minuman yang setelah dikonsumsi membuat gejalanya memarak maka sebaiknya dihindari, tidak mutlak harus menghindari suatu jenis makanan kalo ternyata tidak berpengaruh. Menggaruk-garuk kepala dapat mengindikasi ada gangguan pada kulit kepala seperti ketombe.

  13. Salam kenal mba andini
    Saya sudah test lab ana dan hasilnya positif apakah saya sudah pasti menderita penyakit autoimun? Atau kah saja ada kemungkinan lain? saya sudah hampir 3 bulan ini panas secara terus menerus disertai sakit sendi dan disertai ruam ruam badan kadang terasa kaku leokosit saya tinggi sudah 3x saya di rawat di rs tp dokter masih belum yakin dengan hasil ana yg mengatakan saya positif

    • Hi Nana, untuk didiagnosa dengan penyakit autoimun ada kriteria diagnosis yang perlu dipenuhi dilihat dari hasil lab disertai dengan gejala-gejalanya. Hasil tes positif jika disertai dengan gejala maka baru dapat mengindikasikan menderita penyakit autoimun.

  14. Dok, bagaimana cara mengetahui adanya pantangan makanan? Apakah setelah makan makanan tertentu langsung ada gejala kambuh atau butuh waktu berapa lama? Apa perlu ganti menu secara keseluruhan? Mohon tipsnya.

    • Biasanya tidak lama setelah mengonsumsi makanan tersebut akan terasa gejala memarak, kalo tidak langsung dalam hari yang sama. Tidak perlu ganti menu secara keseluruhan, pantau saja mana makanan yang bikin gejalanya memarak dan mana yang tidak, yang aman tidak membuat gejala memarak tidak perlu dihindari.

  15. dokter saya mau tanya
    saya awalnya itu kan penyakinya DB sama tipes doang dokter
    terus selama 16 hari panas dan pusing ga berhenti akhirnya dibawa kedokter
    kata dokter kena penyakit autoimun rheumatoid arthritis
    ohya dok yang mau saya tanyain itu
    umur saya masih 16 tahun dan punya penyakit ini udah 1 bulan lebih
    apakah diumur muda ini saya bisa terkena stroke dok ?

    • Salam Ela, penyakit rheumatoid arthritis dapat menimbulkan beberapa komplikasi, diantaranya dapat menyebabkan kekentalan darah, jika proses kekentalan darah terus berlanjut maka dapat terjadi stroke atau serangan jantung. Kapan kenanya tergantung dari kapan berlangsungnya komplikasi tersebut dan prosesnya itu sendiri yang dapat berbeda-beda tergantung kondisi masing-masing individu, sehingga usia kapan saja bisa kena. Namun, dengan telah terdiagnosa dan tertangani penyakitnya semoga komplikasinya dapat dihindari.

  16. Dok, mata kelopak mata atas saya bengkak di sebelah kiri mulai dari 2 hari yang lalu..saya rasa penyebabnya karena akhir2 ini saya selalu membawa bekal roti gandum ke sekolah..apa benar itu penyebabnya dok?selama bengkak ini, mata saya kompres pakai air hangat. Apa yg saya lakukan ini udah benar atau salah? Dan apa yang harus saya lakukan? Mohon bantuannya yaa dok. Terima kasih.

    • Salam Livia, mungkin dapat karena mengonsumsi roti gandum tersebut, saya juga pernah mengalami bengkak pada kelopak mata karena juga mengonsumsi produk gluten. Kompres dengan air hangat bisa membantu. Nanti akan menghilang dengan sendirinya.

  17. Aslkm..dok..sy menderita penyakit autoimun pd kulit dan kulit kepala sdh kurang lebih 3 th…ada juga psariosisnya…mohon informasinya dan petunjukknya sy harus terapi bagaimana. Tks.

  18. Dok, saya mau tanya .
    Apkh SLE itu trgolong pnyakit kronis?
    Lalu, apkh trombosit dr si pnderita SLE itu bisa sewaktu” naik ?
    Trmksih doktr

    • Salam Ana, ya SLE itu tergolong penyakit kronis, karena hingga sekarang menurut dunia medis belum ditemukan terapi penyembuhnya, namun dapat dibuat redam/tidur yang dinamakan remisi, namun itu pun perlu proses berbulan-bulan hingga bertahun-tahun. Trombosit pada penderita penyakit autoimun sistemik seperti SLE dapat naik ataupun turun. Oleh karenanya sebaiknya penderita diperiksakan secara berkala.

  19. Salam dok, mohon pendapatnya terkait obat terbaru biologis tocilizumab untuk RA, dan kedua pergelangan tidak bengkak tapi sakit dan mengakibatkan CTS apakah mungkin RA ?

    • Tocilizumab adalah agen biologis yang termasuk obat kelas berat karena efek sampingnya cukup berat, maka dokter perlu menakar dengan baik antara kebutuhan obatnya dengan efek sampingnya. Jika lebih besar kebutuhannya maka akan diberikan, misalign yaitu jika penyakitnya masih progresif meski sudah diberikan beberapa obat DMARDs. Untuk sendinya yang sakit hingga mengakibatkan CTS, memang dapat karena RA, tapi masih juga mungkin penyakit autoimun sistemik lainnya. Namun CTS sendiri juga bisa menyebabkan sakit pada pergelangannya.

  20. Malam dok,
    Saya ayu, pasien sjogren syndrom. Pertanyaan saya adalah, apakah ada tanda2 seorg pasien autoimun sdh memasuki masa remisi? Bila iya, apa saja tanda2nya? Selanjutnya, apakah dokter mengetahui pengobatan bagi penderita autoimun yg jg penderita hiperplasia endometrium yg disarankan pengobatan terapi hormon tp ada risiko pengentalan darah akibat penyakit autoimunnya tsb. Bila dokter berkenan, sudilah kiranya mengirimkan jawaban ke email saya yg tertera dalam surel ini.
    Terima kasih atas jawaban yg diberikan.

  21. Selamat siang dok,
    Perkenalkan nama saya amril. saya mau bertanya tentang penyakit yg saya derita.
    Saya dari kecil sering sekali terkena gatal-gatal pada kulit, orang tua saya sering bilang itu alergi kedinginan, mungkin karena setiap malam terjadinya bentol-bentol tetapi bentuknya tidak seperti biasa. ketika umur saya memasukin 16-17 thn penyakit saya itu berhenti, saya tidak pernah gatal2 lagi apabila malam, tetapi saat saya berumur 22 thn saya mengalami penyakit ini lagi, tetapi bentuknya berbeda tidak seperti dulu, bentol merah sangat banyak di kulit tidak gatal tetapi sakit, dan apabila terkelupas akan mengeluarkan air seperti nanah, terjadi sekitar 2-3 bulan dan sempat terhenti karena saya sudah konsultasi dengan dokter, tetapi bekasnya menimbulkan bekas di kulit saya seperti warna putih (bentuknya seperti panu / bekas luka jatuh).
    Sekarang saya berumur 24 tahun akan memasukin 25 thn, dan saya mengalami penyakit ini lagi sudah sekitar 2-3 bulan, saya bingung sebenarnya ada masalah pada darah saya atau bagaimana ya dok? karena penyakit ini bisa berhenti tetapi bisa timbul lagi, setelah saya baca artikel dari dokter saya sedikit mengerti. dan yg inigin saya tanyakan :
    Apakah penyakit ini lazim? dan apakah sudah ada obat / penanggulangannya ? karena beberapa kali saya ke dokter tetap saja selalu seperti ini (penyakitnya timbul kembali).
    Terima kasih sebelumnya dok, dan maaf saya komen terlalu panjang ya..
    apabila berkenan bisa dokter balas ke email saya, saya akan sangat berterima kasih untuk bantuannya 🙂

  22. dear dokter andini
    dok, mohon bantuannya. suami saya sudah 1 bln ini berkeringat terus di kepala dan badan sampai bantal dan kasur basah. dan sudah 1 minggu ini sesek nafasny dan batuk tersengal2 dan sdh 2 hari ini keluar dahak ada darahnya sedikit. tp telapak tangan berkeringat. suami ada jantung membesar dan bahu kiri suka pegal. saat ini yg jd masalah keringat berlebih pd kepala dan badan saat tidur , dan sesak nafas disertai batuk dgn dahak sedikit berdarah. mohon penjelasannya dok, gejala penyakit apa itu? thanks

    • Sebaiknya segera bawa ke dokter spesialis penyakit dalam, hal ini bisa gejala dari penyakit jantungnya, tapi masih bisa juga dari paru-paru, sebaiknya segera dibawa bu.

  23. Salam dok, mau tanya nih kira2 2tahun yg lalu saya terkena penyakit GBS. Apakah mungkin suatu saat saya terkena kembali penyakit yg sama.

  24. Siang Dokter…
    Apakah penyakit autoimun ada hubungannya dengan HIV / AIDS…mengingat yang diserang adalah kekebalan tubuh.. trus penyebab utamanya apakah dari turunan atau perilaku seseorang yang seperti pengidap HIV /AIDS. terimakasih.

    • Siang, penyakit autoimun berbeda dengan penyakit HIV/AIDS, malah secara sederhananya bisa dikatakan kebalikan. Pada HIV/AIDS, sistem kekebalan tubuh drop sekali, sangat rendah karena virus HIV. Namun pada penyakit autoimun, tipe komponen sistem kekebalan tubuh tertentu ada yang berlebihan di produksi untuk menyerang bagian-bagian tubuh tertentu. Hal ini karena adanya error pada ‘program’ para lini depan pengidentifikasi ‘musuh’ sistem kekebalan tubuh tersebut sehingga memproduksi komponen sistem kekebalan tubuh tertentu untuk menyerang bagian tubuh tertentu tersebut yang dianggap ‘musuh’ padahal bukan. Error tersebut dapat terjadi karena adanya kemiripan tertentu antara suatu kuman yang masuk umumnya virus dengan komponen dari bagian tubuh yang diserang. Jadi pada penyakit autoimun ada error yang terjadi yang dipicu karena terjadi infeksi virus atau kuman lainnya ditambah dengan pemicu lainnya seperti stress, dll, dan error juga menjadi lebih rentan karena faktor genetik. Namun pada HIV/AIDS, terjadi penurunan komponen sistem kekebalan tubuh karena diserang oleh virus. Penyebab penyakit autoimun adalah multifaktorial, ada pengaruh kerentanan genetik, namun perlu ada pemicu untuk munculnya menjadi penyakit. Pemicunya antara lain stress, makanan, infeksi virus, dll. Jadi ada pengaruh gaya hidup yang tidak sehat, namun tidak menular seperti HIV/AIDS, itupun HIV/AIDS menular melalui darah, maka jika ada hubungan seksual, pengguna narkoba suntik yang tidak steril, dll. Semoga menjawab pertanyaan 🙂

  25. maaf dok sy mau minta pendapat dokter ada obat untuk autoimun yang sy baca dari internet namanya Transfer Factor gimana menurut dokter..Mksih sebelumnya

    • Mohon maaf untuk transfer factor ini saya tidak banyak pengalaman atau informasi, ada yang mengaku bermanfaat namun ada juga yang sudah menggunakan cukup lama namun tidak bermanfaat. Informasi yang saya dapat masih belum cukup banyak bagi saya untuk dapat menyimpulkan. Sebaiknya diskusikan dengan dokter yang menangani Leo.

  26. Dokter…saya mau bertanya…kekasih saya adalah penderita psoriasis vulgaris.. Jika di kemudian hari saya menikah dengannya…apakah besar resiko keturunan kami menderita psoriasis juga?? Dan apakah kondisi psoriasis dari kondisi ringan dapat menjadi berat? Terimakasih dokter

    • Salam Fera, jika ditanya mengenai kemungkinan anaknya bisa terkena psoriasis juga, jawabannya adalah iya, namun berapa besar risikonya tergantung dari berbagai faktor. Munculnya penyakit autoimun dipengaruhi oleh berbagai faktor bukan hanya genetik. Jika secara genetik ada risiko untuk terkena psoriasis belum tentu penyakit tersebut akan muncul pada seseorang, tergantung apakah ada pemicunya atau tidak seperti diantaranya yang sering dikaitkan adalah stress (fisik maupun mental), infeksi virus, dll. Kondisi penyakit autoimun tergantung dari karakter penyakitnya masing-masing dan berbagai faktor yang mempengaruhi penyakitnya, jika faktor yang cukup mempengaruhi suatu individu itu tidak dikontrol maka ada kemungkinan dapat menjadi berat. Penyakit autoimun adalah unik sehingga menjadi penderita penyakit autoimun memang butuh pembelajaran, penyesuaian dan pengertian. Namun setelah beberapa lama jika memperhatikannya dengan baik umumnya akan bisa mengenal karakter penyakitnya dan belajar untuk dapat mengontrolnya, baik itu dari mengonsumsi obat-obatan yang sesuai serta dari gaya hidupnya.

  27. Saya seorang ibu yang berusia 63 th, 4 bulan yl. pernah terserang virus campak Jerman. Sekarang,kuku jari kaki jadi mengering terus kukunya copot tanpa sebab ( terantuk benda keras ), dan rambut rontoknya tiap saat sampai rambut di kepala jadi tipis sekali padahal sudah minum biotin dan melakukan perawatan rambut tiap hari… Apa yang harus saya lakukan , Dok ?

  28. maaf sebelumnya dok, sy mau tanya kakak sy punya penyakit hipertiroid tp sdh sembuh dan kta dokter sdah normal. tp sekarang timbul penyakit baru kakak sy punya keringat berlebihan pd kepala, wajah gatal dn rambut rontok, knp bs seperti itu dok? apa penyebabnya? trmksh sblmnya

  29. Malam dok, shani mau tanya. Bulan2 kemarin shani sering sekali merasa nyeri dada sebelah kiri dan jantungnya berdebar tidak normal (berdebar cepat) secara tiba2, lemas, tangan berkeringat dan ketika dipegang terasa dingin, pusing ketika bangun dari jongkok. Dan akhir2 ini terkadang sendi daerah pundak atau lutut gemetaran.
    Kira2 itu gejala penyakit apa ya dokter, dan apa saran dokter buat shani.
    Trima kasih 🙂

    • Salam Shani, ada beberapa kemungkinan untuk kondisi mbak, dapat mungkin jantung atau bisa gangguan hormon terutama tiroid. Sebaiknya segera konsultasi ke dokter spesialis penyakit dalam.

  30. dok,saya mau tanya.apakah penyakit hipertiroid itu sudah pasti autoimun? trus, klw itu autoimun, apakah dia bs sembuh klw obatnya dikonsumsi dengan teratur.mengingat konsumsi obatnya dalam jangka panjang.

    • Salam Ida, Belum tentu, ada beberapa macam hipertiroid, semuanya perlu penelusuran lebih lanjut. Untuk hipertiroid penting sekali mengonsumsi obat dengan teratur karena dapat mengendalikan gejala-gejalanya. Umumnya dengan konsumsi yang baik penyakitnya akan terkendali dengan baik.

  31. salam..
    mbak saudara saya belum lama ini sakit, gejalanya semacam lumpuh pada kaki (tidak bisa berjalan), bengkak di kaki dan siku dan ada bercak bercak di tubuh. pada saat pemeriksaan awal dan opname semua selama kurang lebih 3-4 hari dan pulang kondisi mulai membaik tapi tetap memakai kursi roda. tak lama berselang bercak itu semakin parah dan kedua tangan serta kaki tidak bisa digerakkan (kaku) akhirnya opname untuk yang kedua kali..kata dokter memang autoimun tapi saya tidak begitu paham auto imun yang mana. dari penjelasan dokter penyakitnya sudah menjalar ke ginjal (karena ada gumpalan darah di ginjal), lambung (tidak bisa menerima makan minum sedikitpun), paru paru dan liver. baru baru ini saudara saya bisa kemasukan minum meski cuman air putih. tapi kondisi ini tidak berlangsung lama, sekarang dia muntah dan berak darah. menurut sampeyan saudara saya terkena penyakit autoimun yang mana ? melihat kondisi ini bagaimana penanganannya ? terimakasih

    • Melihat dari penjelasannya sepertinya mengarah ke Lupus (SLE), namunpun sulit untuk saya simpulkan dari penjelasan tersebut, perlu penelusuran lebih lanjut. Sebaiknya diskusikan dengan baik dengan dokternya. Mulailah secara perlahan, kenali penyakitnya, jalin hubungan yang baik dengan dokternya, buatlah suatu kelompok dukungan yang baik dan efektif biasanya berisikan keluarga terdekat, lalu mulai perlahan menjalani terapinya. Dengan komplikasi ke berbagai organ seperti yang dialami saudara anda, maka adalah penting menjalin kerjasama antar dokter berbagai spesialis, supaya semua organ dapat tertangani dengan baik. Perhatikan juga semua obat-obatannya, pastikan semua dokternya tahu semua obat-obatan yang dikonsumsi supaya tidak ada interaksi obat yang tidak diinginkan.

  32. Sdah 4 hari ini tubuh saya terasa dingin namun seluruh badan saya panas. Awal mulanya saya terkena alergi yg menyebabkan ruam disluruh tubuh dan sya demam. Sy sdah berobat tp hnya diberi obat parsetamol dan anti alergi. Yg ingin sya tanyakan apa nama penyakit sya ini dan apa obatnya.

    • Salam Yulianti, masih ada beberapa kemungkinan untuk kondisi mba, saran saya jika tidak membaik sebaiknya kembali ke dokternya atau mencari second opinion ke dokter lain. Yang terbaik adalah evaluasi secara langsung oleh dokternya.

  33. halo dokter! terimakasih atas infonya, dengan begini saya lebih megerti lagi apa itu penyakit MG..
    bolehkah saya tanya jika dipermukaan kulit tiba2 sakit di satu posisi titik ( seperti di tusuk lebah) dan akhir memerah dan mulai sakit… dan akhirnya bengkak merah melebar dan bintik tersebut keluar kepala putih ( permukaan kuliat bagian bengkak dan terlebih di titik putihnya, apabila disentuh hanya secara halus, penderita merasa amat sangat sakit). dan apabila bintik putihnya pecah keluar nanah beserta darah yg mengakibatkan nanah berwarna merah muda pekat… dan apabila nanah putih berhasil keluar secara segumpal, maka nanahnya dikeluarkan dan kulit kita menjadi ada lobang yg dalam sekali…
    ingin saya jelasin lebih detail, tetapi tidak tau bagaimana mengutarakan ciri2 penyakit ini.. menurut dokter penyakit apakah ini? atau apa ada obat yg bisa menyembuhkannya?

    • Salam, kelihatannya terjadi infeksi pada giovani. Individu dengan autoimun memang rentan terkena infeksi. Pastikan untuk menjaga kebersihan kulitnya, jaga agar tidak banyak berkeringat, gunakan pakaian yang longgar. Jaga pola makan yang sehat dan tercukupi. Jika muncul lagi seperti itu, bersihkan dengan cairan NaCl 0.9% lalu jangan diusap, di lap dengan di tekan pelan dan lembut untuk mengeringkannya dengan kasa steril. Lalu olesi tipis dengan salep antibiotik hingga dia mengering.

  34. Hallo dokter, istri saya sering nyeri pada pundaknya dan berpindah ke kaki.Jika nyeri tersebut datang dia susah untuk menggerakkan tangan atau berjalan (tergantung dimana nyeri tersebut menyerang) .lalu istri saya juga pernah terkena rubella. Kita pernah konsultasi ke dokter saraf dan karena tidak membaik kita direfer ke dokter bedah tulang. Namun nyeri tersebut hanya meredam jika mengkonsumsi obat. Apakah ini termasuk gejala autoimun? (hasil darah ANA istri saya negatif) . Dan apakah orang yg terkena autoimun boleh hamil ? Jika sedang hamil apa resiko nya?

    terima kasih dokter.

    • Salam pak Hendy, gejala istri bapak yang bapak sampaikan masih banyak kemungkinan, dapat merupakan autoimun namun juga dapat bukan, masih perlu evaluasi lebih lanjut, tidak dapat saya simpulkan. Banyak penderita penyakit autoimun yang dapat menjalani kehamilan dengan baik meski menderita penyakit autoimun. Yang penting adalah mendapat monitor dari dokter yang merawatnya sebelum, selama dan setelah kehamilan selain daripada dokter kandungannya karena dokternyalah yang memahami kondisinya secara lebih rinci.

    • Malam mba dokter,
      Saya mau tanya nih,hasil lab ana positif
      Ds-dna negatif (ada peningkatan sedikit)
      Anti sm negatif
      Anti ro 52 positif
      Anti ss-a positif tiga
      Anti nRNP positif tiga
      Led 60
      Gejala yg dialami :tubuh gampang cape,pegel di kaki,tidak ada ruam merah, tidak fotosensitif,rambut rontok
      Di vonis dokter hematologi terkena sle,carimsecond opinion ke prof katanyanautoimun,bukan sle
      Diberi steroid,dan obat anti nyeri sekarang sudah mendingan gejalanya.

      Kira2 menurut bu dokter sle atau bukan?
      Klo anti ss-a tinggi apakah saya bisa hamil?
      Bisakah menurun ke anak saya nanti dok?

      Misal suatu hari nanti saya terkena penyakit berat yang mesti melakukan operasi,apakah autoimun saya bisa kambuh?

      Dan apakah bisa terkena penyakit autoimun type lain?

      Terima kasih mba dokter.

      Maaf banyak nanya…hehehee…

      • Salam, dari hasil ana profilenya, bisa merupakan SLE atau Sjogren’s syndrome atau MCTD, masih perlu evaluasi lebih lanjut. Jika pun SLE bukan yang khas. Penderita autoimun bisa untuk hamil, namun perlu dijaga selama kehamilannya. Dapat ada faktor genetik namun tidak mutlak pasti anaknya akan menderita autoimun juga. Jika dari genetiknya ada, asalkan terhindar dari pemicu maka penyakit autoimunnya tidak akan muncul. Sebaiknya anaknya dijaga pola hidupnya dari awal agar terjaga supaya tidak muncul penyakit autoimun. Namun sewajarnya saja tidak perlu berlebihan. Memang penderita autoimun bisa terkena lebih dari satu penyakit autoimun, hal ini tidak jarang, maka adalah penting untuk berusaha mengontrol penyakitnya. Namun banyak juga yang hanya terkena satu penyakit autoimun saja.

  35. Terima kasih. Informasinya sangat lengkap, disertai gambar dan mudah dimengerti oleh orang awam (bukan dokter). Semoga semakin banyak orang yang dapat mengambil manfaat dari tulisan ini. Salam kenal. Esti.

  36. Dr anak saya oleh dr internis di vonis jra, dan oleh dr anak msh blm jra saya bingung 1 bln ini anak saya baru mengalami iniejala awal seminggu sebelumnya radang tenggorokan lalu timbul malam hari di kulit tangannya muncul ruam merah seperti lingkaran besar dan kecil paginya dia merasa jari kakinya sakit dan kaku sehari dibiarkan akhirnya bengkak setelah tes lab led tinggi dan crp 1,38 dr normal 0,3 asto positif, jika minum obat nyeri sendi bs langsung sembuh tapi dalam seminggi bisa kambuh dan nyerang ke sendi jari tangan atau pergelangan bahkan ke leher, apakah ini benar jra jika iya adakah obat yg bisa menyembuhkan tanpa efek samping krn usia dia baru 13 th perempuan. Terima kasih

    • Dari penjelasannya sepertinya masih belum tentu jra, masih mungkin rheumatic fever. Namun saya menghindari melakukan diagnosa tanpa kontak langsung, karena perlu penilaian menyeluruh untuk mendapatkan diagnosis yang lebih tepat. Mungkin perlu untuk meminta second opinion dengan memeriksakan kembali ke dokter anak supaya bisa dinilai lagi. Untuk obat, saya tidak bisa memberikan rekomendasi, namun boleh dicoba mencari tahu mengenai makanan-makanan yang bersifat antiinflamasi untuk membantu meringankan, seperti ikan salmon contohnya.

  37. Terima kasih artikelnya dokter, saya bingung apkh saya sakit autoimun ato tdk. Usia sy 23 th, dulu wktu kcil sering batuk terus menerus kmudian berobat krmah skit katanya sakit gejala paru, tp skrg hnya sesekali batuk kalau agk demam n flu, sy mudah sekali kelelahan, tdk bs mengerjakan pekerjaan berat yg mlibatkan otot, kadang rasanya penat sekali, biasanya bs pulih klo istirahat agk 1 ato 2 jam, sy jg sering panas dlam n bibir pecah. Sy jg mnemukan sdkit noda kehitaman d bgian ktiak sebesar kuku bbrapa buah, lama2 terlihat mengering…

    Mohon pnjelasannya dokter, pencegahan apa kira2 yg bs sy lakukan…
    Terima kasih…

    • Salam mbak, kasus mbak perlu penilaian lebih lanjut, dapat mungkin autoimun tetapi juga mungkin tidak. Jika keluhan-keluhannya dirasa mengganggu sebaiknya mbak berkonsultasi ke dokter penyakit dalam. Namun mbak juga bisa melakukan pencegahan dengan menjaga pola hidup yaitu dengan menjaga asupan makanan yang sehat, kurangi gorengan, jangan terlalu banyak garam, kurangi makan makanan yang terbuat dari tepung terigu dan susu, perbanyak sayur2an dan buah2an, lalu juga lakukan olahraga yang sesuai, dan berusaha mengendalikan stress dengan baik.

  38. artikel yg bagus, saya salah satu penderita auto immun ada rekomendasi ga harus ke rs dan ke dokter mana, pls info yaa..makasih

      • Anaknya skrg bgm bu nita? Insha Allah sdh sembuh. Saya juga penderita autoimun AIHA. Mohon informasinya jika ada yg sdh sembuh dgn penyakit autoimun. Terima kasih

      • Bagaimana kabar anaknya ibu nita, insha Allah sudah sembuh. Saya juga penderita autoimun AIHA. mohon informasinya jika ada yg sudah sembuh dari pennyakit autoimun. Terima kasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s